Naruto Meracuni Anak-anak

* Ajari Kekerasan, Disarankan Jangan Dilihat

Jakarta-Surya, Setelah tayangan-tayangan untuk orang dewasa atau remaja, program televisi untuk anak kini juga mendapat sorotan. Keprihatinan muncul karena tayangan untuk anak itu justru tak layak ditonton oleh anak-anak.

Menurut Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) dan sejumlah penelitian, tak sedikit acara TV khusus anak yang mengandung unsur kekerasan dan seks sehingga tak pantas dikonsumsi anak-anak.

Terakhir, media Kidia edisi Juni-Juli yang dikeluarkan Yayasan Pengembangan Media Anak (YPMA) menyebutkan bahwa sejumlah tayangan untuk anak di TV masuk kategori berbahaya.

Termasuk di dalamnya adalah film kartu Naruto yang belakangan ini banyak digandrungi anak-anak.

Menurut Kidia, tayangan-tayangan TV yang masuk dalam kategori “Berbahaya” itu adalah Tom & Jerry, Crayon Sinchan (RCTI),

Si Entong, Tom & Jerry, Si Entong 2 (TPI), Popeye Original, Oggy & The Cockroaches (AN TV), Detective Conan, Dragon Ball, Naruto 4 (INDOSIAR), Tom & Jerry (TRANS7), One Piece, Naruto (Global TV).

Disebut masuk kategori “Berbahaya” karena acara-acara tersebut mengandung lebih banyak muatan negatif seperti kekerasan, mistik, seks dan bahasa kasar.

Unsur kekerasan dan mistik dalam tayangan yang masuk kategori “Bahaya” ini dinilai kebanyakan, sehingga bukan lagi menjadi bentuk pengembangan cerita, tapi kekerasan itu sudah menjadi inti cerita. Tayangan dalam kategori ini disarankan untuk tidak disaksikan anak.

Keadaan makin mencemaskan jika dilihat data lain bahwa jumlah jam menonton TV pada anak-anak usia SD di Indonesia ternyata tinggi. Yakni berkisar 30-35 jam dalam seminggu atau 4-5 jam per hari.

“Padahal, menurut para ahli, anak (boleh) menonton televisi maksimal 2 jam dalam sehari,” kata Nina Mutmainnah Armando, peneliti dari YPMA yang juga anggota Komisi Penyiaran Indonesia di Jakarta, Senin (14/7).

Jika dikalkulasi, maka jumlah jam menonton TV pada anak-anak Indonesia mencapai lebih dari 1.600 jam dalam setahun. Bandingkan dengan jumlah jam belajar di SD negeri di Indonesia yang rata-rata hanya sekitar 740 jam setahun.

Tom and Jerry itu kekerasannya banyak sekali. Itu kami kategorikan sebagai acara yang dapat kelompok merah. Juga yang sejenis Tom and Jerry, misalkan Popeye, itu banyak muatan dewasanya selain unsur kekerasan. Juga Naruto dan One Piece yang ditempatkan pada waktu utama anak-anak biasa nonton TV,” jelas Nina.

Menurut Kidia, tayangan televisi yang masuk kategori “Aman” bagi anak, bukan hanya tayangan yang menghibur, melainkan juga memberikan manfaat lebih. Manfaat tersebut misalnya, pendidikan, memberikan motivasi, mengembangkan sikap percaya diri anak dan penanaman nilai-nilai positif dalam kehidupan. Sekalipun aman, orangtua diimbau untuk mendampingi anak-anak saat menonton TV.

Sementara, tayangan yang masuk dalam kategori “Hati-hati” adalah tayangan anak yang dinilai relatif seimbang antara muatan positif dan negatifnya. Seringkali, tayangan yang masuk kategori ini memberikan nilai hiburan serta pendidikan dan nilai positif. Namun juga dinilai mengandung muatan negatif seperti kekerasan, mistik, seks dan bahasa kasar yang tidak mencolok.

Nina menegaskan, tujuan mengeluarkan tiga klasifikasi daftar acara anak itu sebenarnya untuk memberi panduan kepada orang tua. Dengan begitu, dalam memilihkan acara TV untuk anak, orangtua tahu mana yang baik untuk anak, diwaspadai dan mana yang sebaiknya dihindari karena bahaya. “Anak sendiri tak bisa tahu, sebuah acara bagus atau tidak. Apalagi, seringkali orang tua memasrahkan pilihan acara TV pada anaknya. Anak tidak dibimbing sehingga potensi dia terpengaruh hal-hal yang negatif sangat besar. Kita tahu tayangan yang tidak baik bagi anak cukup banyak,” ujar Nina.

Langsung Direkam Otak
Sebelumnya, hasil kajian KPI juga menunjukkan ada empat kategori pelanggaran P3-SPS (Pedoman Perilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran) dalam setidaknya 20 tayangan anak di TV.

Pertama, pelanggaran karena tayangan mengandung unsur kekerasan, seperti misalnya menampilkan kekerasan secara berlebihan sehingga menimbulkan kesan bahwa kekerasan adalah hal lazim dilakukan dan tidak memiliki akibat serius bagi pelaku dan korbannya (pasal 29 P3-SPS). Kekerasan dalam hal ini tidak saja dalam bentuk fisik, tetapi juga verbal (ucapan) seperti memaki dengan kata-kata kasar.

Kedua, karena mengandung unsur mistik, yaitu menampilkan perilaku yang mendorong anak percaya pada kekuatan paranormal, klenik, praktik spiritual mistik atau kontak dengan ruh.

Sedangkan kelompok ketiga, pelanggaran yang mengandung unsur pornografi. Termasuk di dalamnya menampilkan cara berpakaian siswa dan guru yang menonjolkan sensualitas, menayangkan gambar sosok manusia telanjang atau mengesankan telanjang, baik bergerak atau diam dan menampilkan kata-kata atau suara yang lazim diasosiasikan dengan daya tarik seksual, memiliki makna jorok/mesum/cabul/vulgar.

Keempat, kategori pelanggaran tayangan anak yang mengandung unsur perilaku negatif. Seperti misalnya menayangkan sikap kurang ajar pada orangtua atau guru dan menggambarkan penggunaan alkohol atau rokok dalam tayangan anak.

“KPI melakukan kajian terhadap tayangan anak ini karena banyak keluhan dari para orangtua, kalangan pendidikan dan masyarakat luas,” kata Komisioner KPI Don Bosco Selamun beberapa waktu lalu.

Menurut Wakil Ketua Komisi Evaluasi dan Sosialisasi Lembaga Sensor Film (LSF) Djamalul Abidin Ass, jika sekali saja seorang anak menyaksikan sebuah tayangan maka 50 persen isinya akan terekam otak. Bila dua kali melihat, 65 persen yang terekam dan jika tiga kali melihat 85 persen isinya terekam oleh otak mereka.

“Jadi tayangan semacam ini akan sangat mempengaruhi kualitas generasi muda, bisa membuat mereka cenderung mengambil jalan pintas tanpa nalar dan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan,” katanya.

Namun, ia menambahkan, dalam hal ini LSF hanya bisa melakukan sensor tayangan dan memberikan peringatan kepada pengelola stasiun televisi yang dinilai melakukan pelanggaran.

“Kadang apa yang ditayangkan tidak sama dengan apa yang sudah disensor. Kalau sudah begitu, kami memberikan peringatan dan melakukan pemanggilan, tapi kami bukan lembaga penindak,” katanya.jbp/had/esi/ant

*****

http://www.surya.co.id/web/Headline/Naruto-Meracuni-Anak-anak.html

5 Balasan ke Naruto Meracuni Anak-anak

  1. azharjaafar mengatakan:

    Sebaiknya usah punya TV di rumah.

  2. pendekar mengatakan:

    ada yang positifnya juga dalam cerita naruto tue…. mengajar anak2 cekal dan berdikari….. heh, namun pisau ditangan kita………..

  3. Gargoyle mengatakan:

    Anak-anak indonesia itu masalahnya pd tolol goblok segala yg ad di tv ditiru perasaan one piece sama naruto gak segitunya kok

  4. yukikozuki mengatakan:

    I hate this post!!!!
    Naruto mengajarkan nilai nilai positf yang banyak!!! Orang dewasa ga poernah mengerti!!
    Naruto menajarkan pentingnya teman dan pentingnya berusaha!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: