Berletih untuk Akhirat

Langit cerah, angin sepoi-sepoi basah, menambah syahdu malam Ramadhan hari ke-21 ini. Koko dan Bembem dengan tenang melangkah ke Masjid Pondok Cabe yang malam ini dipenuhi muslimin/muslimat yang ingin menunaikan shalat ‘Isya dan Tarawih berjamaah. Alhamdulillaah, setiap Ramadhan, masjid ini selalu sesak, tapi yang sungguh membuat masygul adalah ketika diluar Ramadhan, cabe yang justru lebih banyak di masjid daripada orang yg datang utk shalat berjamaah. Itu anak-anak SMA Tunas Cendawan yang biasa nongkrong abis shalat Dzuhur di masjid, suka buang puntung cabe sembarang di pelataran masjid waktu makan tahu Sumedang jualanannya Mang Eman.

Alhamdulillaah, Ramadhan bulan rahmat Allah turun bercurah-curah, muslimin lembut hatinya dan tergerak langkah mereka untuk datang ke masjid-masjid, surau, langgar, ato mushalla. Walaupun, masih ada juga yang kurang bersyukur dengan datangnya bulan yang penuh berkah ini, menganggap semua bulan adalah sama saja, dan masih enggan hatinya untuk berjinak-jinak mendatangi rumah Allah bersama-sama muslimin semuanya dalam suasana cinta dan kasih sayang untuk satu penghambaan kepada Sang Pencipta Penggenggam segala jiwa.

Duyunan warga Taman Pondok Cabe yang hendak ke masjid tidak menyadari bahwa ditengah-tengah mereka sedang ada dua pentolan grup band Selang yang juga hendak menuju tempat yg sama. Kalaulah para ‘selangers’ tau ada Koko dan Bembem diantara mereka, kontan akan terjadi histeria sesaat, minta foto bareng, mau tanda-tangan, menyalami, atau sekedar menegur-sapa sebagai tanda unjuk setia seorang penggemar.

Yang membuat Koko dan Bembem berbeda malam ini dan malam-malam sebelumnya, adalah busana mereka yang sungguh bersahaja. Tiada kaos oblong dan jeans belel ato aroma kretek Gentong. Koko dengan kurta biru mudanya dan celana ombrong a la Pakistan (yang lebarnya muat untuk lima pinggang orang dewasa sebetulnya), ditambah minyak atar aroma kayu Cendana. Bembem dengan baju koko dan kain sarung cap Mangga khas Melayu nusantara, plus wewangian Malaikat Subuh dan peci putih, sungguh membuat mereka bak seorang mulvi dan Kiyai Langitan.

Masjid Pondok Cabe yang masih menganut Islam tradisional, Tarawihnya 20 rakaat plus Witir 3 rakaat (dengan qunut pada 15 malam terakhir Ramadhan). Dua orang imam muda, imam Habib al-Hafiz yg pernah mondok di Yala (Thailand) dan imam Azli al-Hafiz yg belajar Quran di Kubang Bujuk (Malaysia), memimpin shalat Isya’ dan Tarawih berganti2an. Sungguh beruntung warga Pondok Cabe bisa mendengarkan bacaaan al-Quran dari lidah-lidah mereka yang berkah sepanjang Ramadhan ini.

Setelah shalat ‘Isya dan 8 rakaat pertama Tarawih, masjid masih sesak. Tapi masuk rakaat 9, masjid pun lompong tinggal 3 atau 4 shaf saja (gak sampe 10% dr jamaah asal), kebanyakan yang bertahan adalah warga emas diatas 50-60 tahun. Yang tidak ikut, ada yg langsung pulang, baca Quran, ngantuk, langsung shalat Witir dan mencukupi dg 8 rakaat karena ada keperluaan, ato langsung shalat Witir dan mencukupi dg 8 rakaat karena beranggapan inilah yg menepati sunnah.

Bembem: “Mari kita kemon Ko!”

Koko: “Ayolah Bem.. sampai selese dong..”

Bembem: “Gue ngantuk berat nih, tulang-tulang pun sudah ngilu..”

Koko: “Bem, 20 hari pertama ente selalu 8 rakaat saja, alangkah indahnya klo 10 terakhir ini ente pun jg bisa sampai selesai 20 rakaat. Mungkin ini Ramadhan kita yg terakhir, tahun dpn blm tentu kita bisa jumpa Ramadhan lagi. Gih sana! cuci muka ato ambil wudhu, sekalian minum juga es sirop buatan Haji Bajuri petang tadi.. biar seger..”

Nasihat lembut dan tatapan tulus Koko, teman setianya 20 tahun terakhir, membuat hati Bembem luluh tanpa argumen, ambil wudhu dan minum segelas es sirop. Semangat pun kembali memancar! Smangat!

.
.
23 rakaat berlalu..
.
.

“Aamiin..”, setelah baca niat puasa dan bersalam-salaman, jamaah pun berangsur pulang dan ada yg terus i’tikaf dan tadarrusan.

Bembem: “Tengkong banget nih, udah nyemangati gue tadi, bisa sampai ujung jg akhirnya.. alhamdulillaah..”

Koko: “Alhamdulillaah wa syukurillaah, Allah yg bagi taufiq hidayah setiap hamba-Nya.”

Bembem: “Kadang-kadang gue ngerasa malu sama Tuhan. Klo utk urusan akhirat, 1001 alesan bisa gue buat utk menghindar. Tapi utk urusan dunia, macem-macem alesan juga bisa gue buat utk pembenaran. Gue sanggup berdiri berjam-jam waktu konser, nggak tidur bermalem2 nyiapin lirik lagu baru kita, ninggalin anak yg sedang sakit ato istri yg sedang halim utk promosi album baru Selang di seantero Nusantara. Tapi spt yg barusan, utk Tarawih 20 rakaat pun terasa berat, pada dzahirnya gue beralasan karena itu gak nyunnah, padahal sejatinya gue males dan rasa ogah..”

Koko: “Yaaah, itulah kehidupan Bem, penuh dg onak dan duri, ujian dan cabaran. Bukan senang mau masuk Syurga seluas langit dan bumi, mau jalan-jalan sambil pegang tangan bidadari bermata jeli, kulit mulus dan cinta putih. Oh ya, mau 8 ato 20 rakaat Tarawih tak masalah yg penting keikhlasan hati. 8 rakaat di zaman Sahabat Nabi Saw, sungguh tidak sama dengan 20 rakaat sekalipun di hari ini. Ketika itu, setiap rakaat dibacakan 100 ayat, menurut Ustadz Mansyur. Kita di Masjid Pondok Cabe ini, 20 rakaat paling 1/4 ato 1/3 juzu’ saja, gak sampe 1 juzu’ Quran. Disamping jg ijma’ Sahabat dan madzhab yang empat, semua menyatakan bilangan Tarawih adl 20 rakaat. Malah Imam Malik pernah mengatakan utk ahli Madinah, bilangan Tarawih adl 36 rakaat. Liat aja itu di Makkah sono, brp jam mrk shalat Tarawih tiap mlm Ramadhan.”

Bembem: “Elu benar Ko, mulai besok sampai akhir Ramadhan tahun ini dan tahun2 berikutnya, gue berazzam utk Tarawih 20 rakaat. Biarlah tulang-tulang gue berletih-letih utk beribadah kpd Allah, jidat gue jadi lecet-lecet karena menyembah Allah, cungur gue jadi pesek karena sujud kpd Allah, jengku gue jadi tidak indah lagi bentuknya karena sering kejedok lantai waktu mau sujud, badan gue tinggal tulang sama kentut karena berlapar-lapar demi untuk menyukakan Allah, gak apa-apa. Ko, elu memang sahabat sejati gue dlm suka dan duka, tengkong Ko buat segalanya dulu, kini, dan selamanya. Doakan gue..”

Janji Bembem

“Ya Allah.. Tuhan langit dan bumi dan apa yg ada diantara keduanya, maafkan segala kesalahan dan ampunkan dosa-dosa hamba-Mu yg banyak kekurangan ini. Bembem janji utk menjadi hamba-Mu yg baik, bersungguh2 dlm beribadah kpd-Mu, bantulah Bembem dan berilah Bembem kekuatan untuk tegak menepati janji ini.. allaahummaa aamiin..”

*****

Salam MetAl (Mesra to All),

Aba ‘Izzat
Padepokan TSP
(Sep. 21, 2008 — menjelang Ashar)

Glossary:
Tengkong = tengkyu/terima kasih
Cungur = hidung
Jengku = dengkul/lutut
Mulvi = sebutan utk ‘ustadz’ di wilayah Asia Selatan

Dedikasi: Teristimewa buat Koko dan Bembem dan para ‘selangers’ sejagat, semoga ente semua bisa ambil bagian di jalan da’wah ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: