Syurga bukan Milik Harakah

Satu hal yang sangat melucukan di dunia ‘persilatan’ adalah ketika seseorang berhadapan dengan orang lain dari ‘perguruan’ yang berbeda, memandang dirinya lebih baik dari orang yang tidak seperguruan itu. Yang lebih tersangat lucu lagi adalah ketika yang membuat kelucuan itu adalah dari kalangan Yang Dipertua di perguruan tersebut.

Ketika baru menikah, seorang lelaki A1 dari padepokan P1 membawa istrinya A2 (yang dulunya pernah aktif di padepokan P2, cuma ikut ngaji saja katanya n gak pernah terlibat dengan ‘perwajahan lain’ dari padepokan P2 itu) bersilaturahmi (sekalian kenalan antar ibu-ibu rumah tangga) ke rumah kawannya si B1 yang aktif di padepokan P2. Tapi ternyata sodara-sodara, ketika si ibu B2 tau bahwa si ibu A2 dulunya pernah aktif di padepokan P2, langsung ngomong macem-macem, yang pada intinya menyesalkan kenapa sampai si ibu A2 kenapa sampai mau nikah sama si bapak A1 yang berbeda padepokan, kenapa gak milih jomblo-jomblo dari padepokan P2 saja katanya. Dia ngomong betul-betul macem-macem sampai-sampai si ibu A2 setelah pulang dari situ berniat gak mau lagi datang dan ketemu sama si ibu B2.

Lain waktu, ketika lebaran Idul Fitri tahun 2006 kemarin, walau ibu A2 sudah tdk mau lagi datang ke rumah ibu B2, tapi si suami A1 dengan niat untuk menyambung silaturahmi mengajak istrinya lagi ibu A2 bertandang ke rumah ibu B2. Kali ini sodara-sodara, bapak B1 yang ikut-ikutan latah, dia ajak bapak A1 duduk di teras (gak masuk rumah) soalnya sepertinya mereka sdh bersepakat bahwa bapak B1 akan mengajak bapak A1 duduk di luar rumah, sementara ibu B2 akan ngasih ‘wejangan’ kepada ibu A2 (jd malu klo sampai terdengar oleh si bapak A1). Walau akhirnya duduk di terasnya cuma sebentar saja, soalnya ibu-ibu itu ngasih ‘petuahnya’ di dapur, jd bpk A1 diajak masuk oleh B1.

KOMENTAR

[1] Para ‘tetua’ padepokan gak punya hak untuk menentukan jalan hidup para ‘memuda’ padepokannya. Kdg-kdg di lapangan, hanya karena ‘tetua’ tidak setuju ‘memuda cewek’ dilamar oleh ‘memuda cowok’ dari padepokan yang berbeda, pernikahan batal, padahal yang bersangkutan, wali, keluarga besar sudah setuju dan cowok yang ngelamar pun agak ada ‘kerusakan parah’ disisi agama, cuma hanya ‘tetua’ gak setuju, nikah jadi batal. Walhal, tetua itu sendiri bukan makhluk ma’shum, cuma manusia biasa saja bukannya Nabi, ia pun punya potensi yg sama dg makhluk manusia lainnya utk salah n lupa.

[2] Syurga itu hak milik penuh Allah Rabbul ‘Izzat bukan milik padepokan tertentu, semua orang punya hak dan peluang yg sama utk memasukinya, apakah dia dari padepokan A, B, C, Z, XX ato gak aktif di padepokan sama sekali.

[3] Jangan berpikiran sempit, menganggap diri sendiri paling baik, padepokan sendiri yang paling bener, karena semua kita gak tau siapa orang yg mulia itu sesungguhnya disisi Allah Swt.

***

Aba ‘Izzat
~keep the da’way spirit, yeahh!!~

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: