Nasihat buat Pengikut Syaikh Nasiruddin al-Albani

Assalamu’alaikum wr. wb.

Minta tolong pencerahannya pak Ustadz.

1. Seorang teman saya sangat berhati-hati dalam beragama dan menganggap semua yang tidak sependapat dengan kelompoknya adalah sesat atau bidah bahkan dianggap bermaksiat terhadap Allah karena beribadah tidak dengan cara Rasulullah, dan hal demikian menurut mereka bukan sekedar khilafiyah. Yasinan, bermaafan menjelang Ramadhan, qunut dan sebagainya adalah bidah dan sesat masuk neraka. Bagaimana sebenarnya batasan bidah yang diharamkan?

2. “Sikap tidak bisa menerima pandangan orang lain yang tidak sama dengan diri sendiri sebenarnya justru ciri khas orang awam. Di mana akses mereka terhadap ilmu-ilmu syariah tersumbat. ” Pak Ustadz Ahmad Syarwat pernah menuliskan demikian dalam jawaban pertanyaan mengenai shalat witir. Menurut seorang teman saya berarti pak Ustadz secara tidak langsung dia menyebutkan Syaikh Nasiruddin Al-Albani adalah orang awam. Jadi sebenarnya siapa Syaikh Nasiruddin Al-Albani itu dan bagaimana kapasitasnya sebagai seorang Ulama Islam? Serta bagaimana pula pandangan Syaikh itu terhadap khilafiyah?

3. Kalau kita dianggap sesat orang lain, apa yang seharusnya kita lakukan? Apakah boleh kita jadi makmum/imam bagi orang yang demikian (dan sebaliknya)? Mengingat mereka menganggap kita sesat.

4. Jika kita bertemu dengan muslim lain yang tidak sependapat dengan kita, misalnya dalam hal qunut, bagaimana kita berjamaah? Misalnya dalam hal diundang Yasinan, dan sebagainya? Bagaimana sikap kita? Menerima ataukah menolak?

Terima kasih pak ustadz, JazakAllah khoir

Mohammad Agus Sulistyono
agusme

Jawaban

Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

1. Bahwa seseorang berpendapat suatu tindakan itu bid’ah atau haram, tentu saja merupakan hak tiap orang. Akan tetapi yang tidak boleh adalah menunjuk hidung tiap orang dan menyapanya dengan sebutan, “Hai Ahli Bid’ah”, atau “Hai calon penghuni neraka.” Nauzu billahi min zalik

Ketika Imam Malik rahimahullah mengatakan bahwa qunut pada shalat shubuh itu bid’ah, beliau tidak pernah mengatakan bahwa Imam As-syafi’i muridnya yang paling cerdas dan berhasil membangun mazhab sendiri sebagai ahli bid’ah atau calon penghuni neraka, lantaran berpendapat bahwa qunut shubuh itu sunnah.

Demikian juga ketika Imam As-Syafi’i menjadi imam shalat shubuh di masjid Madinah, tempat di mana Imam Malik gurunya itu pernah mengajar fiqih, beliau meninggalkan qunut shubuh. Padahal pendapat beliau menyebutkan bahwa qunut itu sunnah, bila ditinggalkan dengan sengaja harus melakukan sujud sahwi. Namun beliau tetap sangat menghormati almarhum gurunya.

Kedua ulama guru dan murid itu alih-alih saling mencaci, justru mereka saling bertukar pujian. Dan bukan sekedar basa-basi, melainkan pujian setulus hati dan sejujurnya. Berbeda dengan ulama zaman sekarang, yang ketika memuji, boleh jadi hatinya masih panas.

Maka bagi seorang alim, berpendapat yang berbeda dengan saudaranya sangat wajar dan manusiawi. Tapi kalau kemana-mana selalu melontarkan cacian, makian, tuduhan, ejekan serta secara terus menerus menyakiti hati dan perasaan saudaranya dengan julukan-julukan kurang ajar, padahal yang dibicarakannya itu masih seputar masalah khilafiyah, sungguh bukan sikap seorang ahli ilmu.

2. Syeikh Nasiruddin Al-Albani tidak senaif yang dibilang teman anda. Beliau seorang ulama besar yang sudah pasti paham bahwa di dalam masalah syariah, pasti banyak perbedaan pendapat. Beliau sangat bisa menerima perbedaan pendapat dengan ulama lain.

Dan tentu saja tidak benar bila kami menuduh bahwa Syeikh termasuk yang kami katakan sebagai orang awam yang tidak punya akses kepada ilmu syariah.

Tentu saja yang kami maksud bukan Syeikh Al-Albani, melainkan segelintir orang yang ke mana-mana membawa nama beliau, tetapi melakukan tindakan tidak terpuji. Seandainya Syeikh masih hidup dan mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi, pastilah mereka akan ditegur dengan keras.

Yang tidak bisa menerima perbedaan pendapat itu memang orang-orang awam, yang barangkali hanya kenal satu ulama saja. Misalnya mereka hanya kenal Syeikh Nasiruddin Al-Albani saja. Sayangnya kemudian pendapat beliau banyak dieksploitir sedemikian rupa, sehingga seolah-olah Al-Albani jadi tokoh kontroversial.

Padahal di dunia ini yang namanya ulama bukan hanya beliau seorang saja. Dan beliau yang mulia Syeikh Al-Albani sendiri pasti mengakui bahwa dirinya bukan satu-satunya ulama. Beliau tidak pernah mengatakan bahwa siapapun yang tidak sesuai dengan pendapat dirinya, pasti sesat dan pasti masuk neraka. Beliau juga tidak pernah mengatakan bahwa yang benar hanya dirinya sendiri, sementara semua pendapat lain pasti salah dan sesat. Sungguh Syeikh Al-Albani terlepas dari semua hal yang dituduhkan.

Bahwa seorang Al-Albani punya pendapat yang berbeda dengan banyak ulama lain, itu karena beliau yakin bahwa hujjah beliau kuat. Dan sebagai seorang ahli hadits, tidak seorang pun yang meragukan kemampuan beliau. Namun dengan semua kemampuannya itu, beliau sama sekali belum pernah merasa dirinya paling benar. Bahkan beliau terlepas dari sikap-sikap jumud dari kalangan awam yang menisbahkan diri mereka sebagai murid beliau, namun tidak mengikuti akhlaqnya.

Al-Albani tidak pernah mencaci maki seorang ulama. Beliau tidak pernah mengkafirkan atau menuduh siapa pun sebagai ahli bid’ah. Meski beliau sangat anti dan memerangi bid’ah, namun biar bagaimana pun beliau seorang ulama yang paham etika dan estetika. Beliau tidak pernah menyebut nama seseorang dari kalangan ulama lain yang tidak sepaham dengan beliau sebagai kafir, atau ahli bid’ah, atau calon penghuni neraka atau sebutan-sebutan lain yang tidak etis.

Tidak sebagaimana sekelompok kecil orang awam yang berani memakai nama beliau sebagai rujukan atau ulama ikutan, tetapi berakhlaq rendah serta bermasalah dengan jiwanya. Dalam logika kelompok kecil ini, yang penting semua orang harus salah dulu, lalu disikat dengan berbagai macam dalil. Dan kemudian mereka menggunakan nama Al-Albani sebagai tumbal.

Sementara Syaikh Al-Albani jauh dari sikap dan tindakan gegabah seperti itu. Sebenarnya nama baik beliau justru direndahkan dan dihinakan oleh sekelompok kecil orang yang tidak bertanggung-jawab. Mereka membawa-bawa nama Syeikh seolah tindakan salah mereka itu adalah perintah dan ajaran dari beliau.

Semoga Allah memaafkan kesalahan saudara-saudara kita itu dan menyadaran mereka untuk kembali ke jalan yang benar. Semoga Allah SWT meluaskan dada mereka dan mau menerima realita dalam berjamaah bersama dengan sesama umat Muhammad SAW. Semua yang mereka tuduhan kepada Syaikh semoga dihilangkan.

3. Ketika ada seseorang menuduh diri kita sebagai sesat, hanya lantaran kita punya pemahaman fiqih yang tidak sama dengan dirinya, maka ketahuilah bahwa kita sedang berhadapan dengan orang jahil. Dalam hal ini, mungkin firman AllahSWT berikut bisa kita sima baik-baik.

Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata keselamatan. (QS Al-Furqan: 63)

Kita tetap sah bermakmum di belakang mereka, selama kita yakin bahwa shalat mereka sah. Sedangkan kalau mereka tidak mau bermakmum kepada kita, tidak usah dipikirkan. Nothing to loose, kan?

4. Seandainya anda berkeyakinan bahwa qunut itu bid’ah, maka anda tetap sah shalat di belakang imam yang qunut. Dan demikian juga sebaliknya.

Sebab sekali lagi, kalau pun qunut itu dikatakan bid’ah, sebenarnya tidak ada satu ayat Quran yang menyebutkannya dan juga tidak ada hadits shahih yang secara eksplisit menyebutkannya. Kebid’ahan qunut hanya lahir dari hasil sebuah ijtihad manusia belaka, bukan kalamullah dan bukan sabda rasulullah SAW. Jadi bisa benar dan bisa salah.

Demikian juga dengan kebid’ahan Yasinan, kami yakin mereka yang berpendapat demikian, tidak pernah bisa menyebutkan satu ayat atau satu hadits pun yang secara eksplisit nabi SAW melarang untuk melakukannya. Kalau pun dikatakan bahwa Yasinan itu bid’ah, ketahuilah bahwa hal itu hasil dari sebuah ijtihad. Bisa benar dan bisa salah.

Dan tidak ada seorang pun yang berhak untuk mengklaim bahwa dirinya selalu dan senantiasa benar, lalu semua orang pasti semua salah, bid’ah dan neraka. Kecuali hanya satu orang yang berhak mengklaim demikian, yaitu Rasulullah SAW seorang.

Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Ahmad Sarwat, Lc.

***

http://www.eramuslim.com/ustadz/shm/451a1b36.htm

38 Balasan ke Nasihat buat Pengikut Syaikh Nasiruddin al-Albani

  1. turhaniza mengatakan:

    albani mengatakan syekh al ghazali jahil. albani mengatakan syekh sya’rawi itu munharif aqidah. albani mengatakan syekh-syekh di azhar itu ba’idun ‘an as-sunnah (jauh dari sunnah). albani menyebut 30 gelar jelek kepada syekh abdulhamid abu ghuddah, fasik, bid’ah, dajjal dan sebagainya. tidak usah ditutup-tutupi.

  2. cobalt_6982 mengatakan:

    Bismillahirrahmanirrahim
    Assalamualaikum warohmatullohi wabarokatuhu

    Segala puji bagi Allah,Tuhan ku dan Tuhan mu
    Shalawat serta salam semoga tercurah kepada Rosulullah Muhammad SAW

    @Turhaniza
    sungguh perkataan anda terhadap Syeikh Albani jelas merupakan perkataan yang didengar dari orang lain…tetapi anda tidak tau perkataan syeikh Albani sesungguhnya…

    Anda mengatakan bahwasanya Syeikh Albani mengatakan Al Ghazali itu jahil…tolong tunjukkan darimana anda mengambil hal seperti itu….jgn cuma katanya, katanya, dan katanya…

  3. al awwam mengatakan:

    Sebaiknya anda belajar lagi,lagi dan lagi.Lc anda diragukan.dari gelar anda saja sudah kelihatan kalau anda suka pamer. anda tidak ikhlas dalam menuntut ilmu alias riya.capeeek dech ach.

  4. tulit mengatakan:

    ahmad sarwat ini siapa sih….
    Dapat gelkar Lc…? (Langsung Ceramah)
    Belajar lagi aja dulu….
    Ketimbang menyesatkan umat….
    Dai2 yg suu’

  5. jamalludin mengatakan:

    setiap perkara ibadah pastilah tidak ada larangannya, tapi muamalah barulah ada larangannya. perkara yasinan itu adalah ibadah, maka yang harus kita lihat adalah: “APAKAH ADA CONTOHNYA DARI RASULULLAH SOLALLAHU ALAIHI WASSALAM”. jadi kalo tidak ada contohnya namanya mengada-ada, yang meng ada-ada itu namanya bid’ah.
    seperti sholat subuh, itu pasti tidak ada larangannya jika mau sholat 3 rokaat, tapi karena tidak ada contohnya, maka itu bid’ah.wallahua’lam

  6. Abdullah mengatakan:

    Setiap ulamak tidak terlepas daripada membuat kesilapan..jgn terlalu fanatik terhadap ulamak tertentu shj…sayangi ulamak..belajarlah agama untuk mengetahui kebenaran..jika ingin mengetahui tentang hadis tanyalah ulamak hadis, jika ingin mengetahui tentang fiqh, tanyalah ulamak fiqh..begitulah yang lain2nya..

  7. Parto mengatakan:

    tapi Syeich albani itu kan ulama rujukan bagi penganut paham wahabi…. silahkan aja buka site ttg wahabi, baik yg lokal maupun yg di Saudi… Sifat wahabi memecah belah Umat Islam itu sendiri dan amat benci terhadap Sufi..

  8. ari mengatakan:

    Betul saya sependapat dengan ustad ahmad sarwat, mereka yg mengatas namakan pengikut albani ga ada bedanya sm wahhaby di saudy, yg negara2 timteng lainnya saja menklaim bahwa saudy itu sebagian brpaham wahhaby,(ga semua) jadi pengikut2 baru albani ini adalah orang2 awwam yg harus kita arahkan biar hati mereka dibersihkan dari sifat curiga,hasad,dengki dn sifat2 buruk lainnya yg tdk dimiliki oleh Rosulullah Saw dll, termasuk kita semua kaum muslimin agar barisan kita kuat dan tangguh menghadapi kaum yahudi laknatullah yg telah memporakporandakan kaum muslimin tapi sampe sekarang umat islam masih belum sadar. WAhAI KAUM MUSLIMIN BERSIKAPLAH DEWASA DAN BIJAKSANA. :):) :)

  9. abdullah mengatakan:

    astaghfirullah…. semakin tinggi ilmu seharusnya semakin bijaksana, bukan semakin sombong…. berapa banyak hadist yang kalian hapal? berapa kitab yang telah kalian baca? siapapun dia, selama msih mengajak ke sunnah dengan dalil yg dapat dipertanggung jawabkan, tidak pantas bagi kita utk menghujatnya, walaupun kita tdk sepaham….

  10. Abu Umar mengatakan:

    Laukana khoiron lasabaquna ilaih
    sederhana dalam ibadah lebih baik dari pada bersungguh-sungguh dalam BID’AH
    SETIAP BID’AH ADALAH SESAT MESKIPUN SEMUA ORANG MENGANGGAPNYA SEBAGAI SUATU KEBAIKAN

  11. harif mengatakan:

    siapa sahaja nasiruddin,biarkan dia….manhaj yang patut kita ambil dan berpegang adalah “tengok atau dengar apa yang dikatakan,bukannya tengok siapa yang berkata”…..sungguh pun seorang doktor,ulamak,tok guru,jika mereka menyatakan sesuatu menyalahi hukum atau agama,kita kena tolak…bukan bertaqlid buta sahaja….Allah beri kita aqal..kalu untuk tujuan taqlid ,tak perlukan aqal,,,ikut ja,,,samalah macam lembu yang di cucuk hidung,dan ditarik kemana sahaja oleh tuannya..tuan dia jatuh dalam lumpur pun dia terjun sekali,dalam lumpur tahan la lagi,kalu jatuh dalam lubang najis,sama2 lah busuk..apatah lagi kalu jatuh ke dalam lubang neraka..kalu hidup sekadar mahu bertaqlid kepada imam,tak payah lah makan nasi,baik makan rumput ja,kerana seolah2 dah di cucuk hidung macam lembu…kalu nak bertaqlid dibolehkan seperti mana kata imam Ahmad, “adapun taqlid itu hanyalah terhadap nabi dan sahabat2 sahaja…..manakala ,tabiin pula kita berhak untuk memilih pendapat mereka atau meninggalkannya”…sama juga kata2 imam malik “setiap pendapat itu boleh di terima dan ditolak melainkan pendapat nabi sahaja”-sambil menunjukkan kubur nabi…berbalik kepada persoalan,siapa pn imam nasaruddin, kita kena tengok apa yang dia bawa,kalu daripada nabi dan di jamin kesohehennya maka kita terima lah….dalam hal ini bukannya di namakan taqlid imam kerana kita merujuk dalil yang mereka gunakan…al bani menolak hadis dhoif sebagai hujah kerana dah namanya pun dhoif…berbalik lah kita kepada hadis daripada imam bukhori,”sampaikan daripada nabi walaupn sepotong ayat………….barang siapa yang menipu ke atas nabi debgan sengaja(menisbahkan ke atas nabi walhal ianya bukan datang daripada nabi),maka neraka lah tempatnya”….saya begitu hairan dan kecewa terhadap kejumudan masyarakat kita yang menolak tokoh2 islam hanyalah kerana berlainan fahaman dan amalan…masyarakat malaysia yang bergelumbang dengan bid ah,namun masih nak mempertahankan amalan2 yang jelas sekali bertentangan dengan ajaran nabi…sungguh memalukan serta mengecewakan….skarang ini,apabila kita menyeru kepada al-quran dan sunnah,kita di boikot,di tuduh macam2, wahhabi la,sesat la,namun ianya tidak menjadi sebab untuk kita berhenti berdakwah….kerana kata nabi dalah hadis bukhpri,islam itu datang dalam keadaan terasing dan akan kembali dalam keadaan terasing….

  12. tingkir mengatakan:

    kepada turhanisa tolong mulut kamu di jaga,,ojo waton ceplasceplos

  13. bambang mengatakan:

    kok jadi saling ejek ya. kenapa sih sesama muslim harus pakai kata yang tidak berhalus makna dan bertutur lembut. kalau Allh aja suruh kita untuk mendebat para ahli kitab yang non muslim dengan debatan yang baik kenapa kita sesama saudara seakidah harus saling berdebat dengan kasar.
    kita sudah lihat, dengar dan baca tentang semua informasi mungkin benar. tapi sudahkah kita mencoba untuk menggali dan memahami lebih lanjut dan menguji kebenaran fatwa yang ada.
    tolong donk, sekarang kaum muslim sudah menjadi target serang. kita selalu dipecah belahkan oleh musuh-musuh Allah, lha kok sekarang kita sendiri yang mau saling memecahbelahkan silaturrahim.
    maaf bukan bermaksud menggurui atau merasa lebih hebat dsb, tapi kalu diperkenankan untuk sedikit mencurahkan pikiran dan saya yakin para sahabat semua adalah manusia hebat yang memiliki potensi dan kepedulian yang luar biasa terhadap perkembangan dan kemajuan agama kita.

  14. Hamba Allah mengatakan:

    Jawaban2 di atas adalah jawaban yang tadak ada kepastian. Padahal hidayah Allah itu kan tidak ada keraguan sedikitpun. Mestinya, kalau memang mendapat hidayah dari Allah, bisa membedakan mana sesat, mana tidak sesat. Mana halal mana harom. Mana najis mana bukan najis. Mana pahala mana dosa. Mana surga mana neraka. Saya meyakini, tanpa hidayah Allah ya seperti itu. Bisa benar bisa salah. Itu jawaban yang tidak bisa dipakai sebagai pegangan. Jazakallohu kh

    • Doni Rahman mengatakan:

      assalamu’alaikum…
      sampai kapan pun kalau begini terus tidak akan dapat titik temu… yang jelas kenapa saling mengejek kita beribadah….??????? bid’ah/wahabi/salafi dll… semua tidak akan ada titik temu marikita beribadah menurut agama dan kepercayaan kita masing-masing… yang percaya hari permbalasan… hari kiamat… kita tunggu semoga kita di pertemukan dan di lihatkan oleh yang maha kuasa di hari pembalasan nanti besok ato lusa… ingat dunia hanya sehari ato setengah hari saja…… tapi akhirat langgeng….

      kesimpulannya…. saling menghargailah dalam menjalankan ibadah….!!!!!! yang safi’i, hambali, hanafi, maliki… rukunlah kita tidak perlu mempermasalahkan karena kita sudah berpegang pada imam masing2… bener ga…?????

      wasssalam…

  15. Hamba Allah mengatakan:

    Walaupun saya bukan yang bertanya, tapi yakin bahwa Insya Alloh penanya jugA tidak puas dengan jawaban itu.

  16. hamba Allah_1 mengatakan:

    Rujukan umat beragama yang paling kuat adalah Al Qur’an dan Sunnnah Rasulullah, itulah yang menjadi pegangan kuat Syeik Albani rahimahullah. Itulah yang harus kita ikuti. Lepaskan diri dari fanatisme thd mazhab-mazhab yang ada.
    Sesungguhnya agama itu adalah apa yang datangnya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam sebagaimana termaktub dalam Al Qur’an dan As Sunnah. Dengan demikian apa yang ditunjukkan oleh Al Qur’an dan As Sunnah itulah agama dan apa yang menyelisihi Al Qur’an dan As Sunnah berarti perkara itu adalah bid`ah.
    Sebaik baik perkataan adalah Kitabullah, sebaik baik petunjuk adalah petunjuk Rasulullah.
    NOTE : Buat saudara Ahmad Sarwat, Lc. saya sarankan untuk tidak plin plan dalam memberikan jawaban. Berikan suatu kepastian, jangan anda sesatkan umat.
    Jazakullah…

  17. muhammad mengatakan:

    kalau, ahmad sarwat mgatkan al bani tdk pernah menjlek2 ulama salaf atau ulama ahlussnah ,brrt anda tdk ktab al bani, bhkm hal ini tdk rahasia, skrg al bani tdk mcm 2 dgn ulama2 pendahulu tntlah ulama2 yg se zaman dgn al bani tdk akn mnls bku tk membantah tdhan al bani, trhdp ulama yg tdk cocok, pdhal d tanya brp ribu al bani hapal hadits ,dan tlg tnujukan sanan beliau smpai k nbi, .dia adlah ulama,tp siapkah yg mgku dia ulama? 1.org2 yg sepham dgn nya 2 org2 awam,sprt murd2 nya. Adakah ulama2 pkar hadits .sprt abdul fattah abu ghuddah, saed ramdan al buti, ali sabuni, ulama azhar,ulam syria,jwb ny tdk ada. Yg d ktakn ulama apbl ulam lain mgakui nya. 2. Adakh ulama2 pkar dar klgan ahlussunnah mengambl maafaat dari ktb nxa,tdk ad .kcuali org salafi wahabi saja. K munculan al bani sma dgn abul ‘ala mududi. Yg terjbk dlm penghnaan pd sahbat,2nbi dn krg adb nya pda anbia’,ktb2 mududi d sukai olah org 2syi’ah.mududi bljr tnp sanad,tanpa guru ,krn dia cerdas mk dia mampu mengrang tafsir, ttp stlh d teliti olh ulama2 hindustan ternyta bnyak penympgan 2 .tdk jauh bda dgn syk al bani ,rah.aneh org wahbi salafi tdk mau mengakui kslhan 2 syekh x,siapa yg sbnr x taqlid bvta dan fanati k buta yg anda tdhkan pda org lain,

  18. elqib azza mengatakan:

    akhi fillah,,,antum adalah temanku,mbok jangan sling menghina,berkata kasar,mencaci dsbnya,kalau ingin pandai dan tidak bingung bergurulah terhadap orang2 yg berkopenten dalam bidangnya,jangan hanya satu guru saja,kalau membaca bacalah buku2 yg mutu yg bisa membuat jiwa kita enak,yg bisa menambah keimanan,kekhusukan beribadah,membuat hati bisa tawadhu’dsbnya,kalau kita hanay membaca hanya satu kitab karangan satu guru saja maka kita akan terjebak kepada pendapat guru tersebut,jadi tolong jngan saling menghina dll,ingat orang2 musuh islam akan mentertawakan kita apakah kita tak sadar itu…

  19. zubiermuda mengatakan:

    itu az repot,wahaby kan makan padi,sedangkan kita makan nasi yg telah diaduk oleh ulama2 yg mu’utabar.maka tidak wajar kita berdebat dgn mereka,krn kita beda makanan dgn mereka.dasar wahaby pemikiran global

  20. aaaaa` mengatakan:

    udah mrasa pada pintar ni yah????? blajar dulu!!!!!!!!!!!

  21. aaaaa` mengatakan:

    sangatbagus

  22. Salam mengatakan:

    SESAMA MUSLIM ITU SAUDARA, MENGAPA KALIMAT INI TIDAK DIPAHAMI DENGAN BAIK DAN BENAR? SELAIN NON MUSLIM PUN KITA MESTI MENGHORMATI, KENAPA KITA YANG SATU BENDERA ISLAM TIDAK BERJIWA BESAR?

    AYOLAH .. MAKNAI BEDA PENDAPAT SEBAGAI CAMBUK BAGI KITA UNTUK TERUS BELAJAR, TIDAK TERBATAS KEPADA SATU SUMBER ILMU. KELEMAHAN BANGSA INI ADALAH TERLALU MUDAH UNTUK MENYALAHKAN BAHKAN MENGHAKIMI SEMAUNYA SENDIRI, TERLALU MEMAKSAKAN KEHENDAK SENDIRI DAN KELOMPOKNYA BAHKAN IRONISNYA BERPENDAPAT TANPA DIDASARI ILMU AGAMA YANG CUKUP.

    INGAT, DALAM ISLAM DOSA ITU DIPIKUL OLEH KITA SENDIRI DAN TIDAK BISA DITRANSFER KEPADA ORANG LAIN. PERKATAAN YANG KITA SAMPAIKAN LEWAT TULISAN INI MERUPAKAN PENDAPAT SENDIRI SESUAI KAPASITAS KEILMUAN MASING-MASING. DAN KITA YANG BERTANGGUNGJAWAB DIHADAPAN ARROHMAN. LEPAS DARI BENAR ATAU SALAH, SEPENDAPAT ATAU TIDAK SEPENDAPAT MESTINYA JANGAN DIJADIKAN KESEMPATAN UNTUK MENYUDUTKAN SATU SAMA LAIN SUPAYA HIDUP KITA MENDAPAT BERKAH DARI ALLAH SWT.

    BUKANKAH ISLAM DITURUNKAN UNTUK MENGAJARI MANUSIA BAGAIMANA BER AKHLAKUL KARIMAH ?

    SAUDARAKU, MARI KITA TINGKATKAN TAKWA KPD ALLOH SWT DENGAN SEBENARNYA. SELAMATKAN DIRI DAN KELUARGA MASING-MASING DARI SIKSA API NERAKA YANG BAHAN BAKARNYA BATU DAN API.

    BELAJARLAH ILMU AGAMA DARI SUMBER MANAPUN, YAKINI DAN AMALKAN BILA TELAH MENGETAHUI HUKUMNYA DAN TETAP SEMANGAT BELAJAR APABILA BELUM MENGETAHUI BENAR AKAN HUKUMNYA. SEMOGA KITA ORANG ISLAM MENDAPAT LINDUNGAN DARI ALLOH SWT DARI LAKNAT, MAKSIAT DAN DOSA DAN KITA TERMASUK ORANG-ORANG YANG BERUNTUNG DIUNIA DAN AKHERAT. AMIIIN.

  23. abdillah mengatakan:

    itulah sifat manusia yang slalu begini kalau ada perbedaan….gak ad yang akur…….!!!!.ustad ktmu ustad aja ribut apalagi yang awam …jngan2 yang komen juga……..

  24. Muallaf Menjawab mengatakan:

    QUNUT GAK QUNUT SAMA SAJA , SAMA-SAMA SHOLAT SHUBUH . TAPI KALAU ORANG GAK SHOLAT SHUBUH TAPI PAKAI QUNUT ITU BARU BEDA : D

  25. andi mengatakan:

    Wahabiyah juga dikenal sebagai aliran Mujassimah (menjisimkan Allah Ta’alaa), aliran ini juga dikenal dengan nama Musyabbihah. Berdasarkan hal ini, maka sebenarnya mereka terkategori sebagai pelaku bid’ah Muharramah (bid’ah yang hukumnya haram) Sebagaimana yang sudah dijelaskan oleh al-Imam Shulthanul ‘Ulama ‘Izzuddin bin Abdissalaam rahimahullah :
    “dan diantara contoh-contoh bid’ah al-muharramah (bid’ah yang haram) adalah : aliran Qadariyyah, aliran Jabariyyah, aliran Murji’ah dan aliran Mujassimah, sedangkan membantahmereka merupakan bagian dari bid’ah wajibah (bid’ah yang dihukumi wajib)”.( Lihat : Tahdzibul Asmaa’ wal Lughaat [3/22-23]. Imam an-Nawawi ; Qawaidul Ahkam lil-Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdissalaam [2/204]

  26. andi mengatakan:

    Dialog Syaikh Al-Buthi dan Syaikh Al-Albani
    Ada sebuah perdebatan yang menarik tentang ijtihad dan taqlid, antara Syaikh Muhammad Sa’id Ramadhan al-Buthi, seorang ulama Ahlussunnah Wal-Jama’ah di Syria, bersama Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, seorang tokoh Wahhabi dari Yordania. Syaikh al-Buthi bertanya: “Bagaimana cara Anda memahami hukum-hukum Allah, apakah Anda mengambilnya secara langsung dari al-Qur’an dan Sunnah, atau melalui hasil ijtihad para imam-imam mujtahid?” Al-Albani menjawab: “Aku membandingkan antara pendapat semua imam mujtahid serta dalil-dalil mereka lalu aku ambil yang paling dekat terhadap al-Qur’an dan Sunnah.”
    Syaikh al-Buthi bertanya: “Seandainya Anda punya uang 5000 Lira. Uang itu Anda simpan selama enam bulan. Kemudian uang itu Anda belikan barang untuk diperdagangkan, maka sejak kapan barang itu Anda keluarkan zakatnya. Apakah setelah enam bulan berikutnya, atau menunggu setahun lagi?” Al-Albani menjawab: “Maksud pertanyaannya, kamu menetapkan bahwa harta dagang itu ada zakatnya?” Syaikh al-Buthi berkata: “Saya hanya bertanya. Yang saya inginkan, Anda menjawab dengan cara Anda sendiri. Di sini kami sediakan kitabkitab tafsir, hadits dan fiqih, silahkan Anda telaah.” Al-Albani menjawab: “Hai saudaraku, ini masalah agama. Bukan persoalan mudah yang bisa dijawab dengan seenaknya. Kami masih perlu mengkaji dan meneliti. Kami datang ke sini untuk membahas masalah lain”.
    Mendengar jawaban tersebut, Syaikh al-Buthi beralih pada pertanyaan lain: “Baik kalau memang begitu. Sekarang saya bertanya, apakah setiap Muslim harus atau wajib membandingkan dan meneliti dalil-dalil para imam mujtahid, kemudian
    mengambil pendapat yang paling sesuai dengan al-Qur’an dan Sunnah?” Al-Albani menjawab: “Ya.” Syaikh al-Buthi bertanya: “Maksud jawaban Anda, semua orang memiliki kemampuan berijtihad seperti yang dimiliki oleh para imam madzhab? Bahkan kemampuan semua orang lebih sempurna dan melebihi kemampuan ijtihad para imam madzhab. Karena secara logika, seseorang yang mampu menghakimi pendapat-pendapat para imam madzhab dengan barometer al-Qur’an dan Sunnah, jelas ia lebih alim dari mereka.”
    Al-Albani menjawab: “Sebenarnya manusia itu terbagi menjadi tiga, yaitu muqallid (orang yang taklid), muttabi’ (orang yang mengikuti) dan mujtahid. Orang yang mampu membandingkan madzhab-madzhab yang ada dan memilih yang lebih dekat pada al-Qur’an adalah muttabi’. Jadi muttabi’ itu derajat tengah, antara taklid dan ijtihad.” Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa kewajiban muqallid?” al-Albani menjawab: “Ia wajib mengikuti para mujtahid yang bisa diikutinya.” Syaikh
    al-Buthi bertanya; “Apakah ia berdosa kalau seumpama mengikuti seorang mujtahid saja dan tidak pernah berpindah ke mujtahid lain?” al-Albani menjawab: “Ya, ia berdosa dan haram hukumnya.”
    Syaikh al-Buthi bertanya: “Apa dalil yang mengharamkannya?” Al-Albani menjawab: “Dalilnya, ia mewajibkan pada dirinya, sesuatu yang tidak diwajibkan Allah padanya.” Syaikh al-Buthi bertanya: “Dalam membaca al-Qur’an, Anda mengikuti qira’ah-nya siapa di antara qira’ah yang tujuh?” Al-Albani menjawab: “Qira’ah Hafsh.” Al-Buthi bertanya: “Apakah Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja? Atau setiap hari, Anda mengikuti qira’ah yang berbeda-beda?” Al-Albani menjawab: “Tidak. Saya hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja.”
    Syaikh al-Buthi bertanya: “Mengapa Anda hanya mengikuti qira’ah Hafsh saja, padahal Allah subhanahu wa ta’ala tidak mewajibkan Anda mengikuti qira’ah Hafsh. Kewajiban Anda justru membaca al-Qur’an sesuai riwayat yang datang dari Nabi shallallahu alaihi wasallam secara mutawatir.” Al-Albani menjawab: “Saya tidak sempat mempelajari qira’ah-qira’ah yang lain. Saya kesulitan membaca al-Qur’an dengan selain qira’ah Hafsh.”
    Syaikh al-Buthi berkata: “Orang yang mempelajari fiqih madzhab al-Syafi’i, juga tidak sempat mempelajari madzhab-madzhab yang lain. Ia juga tidak mudah memahami hukum-hukum agamanya kecuali mempelajari fiqihnya Imam al- Syafi’i. Apabila Anda mengharuskannya mengetahui semua ijtihad para imam, maka Anda sendiri harus pula mempelajari semua qira’ah, sehingga Anda membaca al-Qur’an dengan semua qira’ah itu. Kalau Anda beralasan tidak mampu melakukannya, maka Anda harus menerima alasan ketidakmampuan muqallid dalam masalah ini. Bagaimanapun, kami sekarang bertanya kepadaAnda, dari mana Anda berpendapat bahwa seorang muqallid harus berpindahpindah dari satu madzhab ke madzhab lain, padahal Allah tidak mewajibkannya.
    Maksudnya sebagaimana ia tidak wajib menetap pada satu madzhab saja, ia juga tidak wajib berpindah-pindah terus dari satu madzhab ke madzhab lain?” Al-Albani menjawab: “Sebenarnya yang diharamkan bagi muqallid itu menetapi satu
    madzhab dengan keyakinan bahwa Allah memerintahkan demikian.”
    Syaikh al-Buthi berkata: “Jawaban Anda ini persoalan lain. Dan memang benar demikian. Akan tetapi, pertanyaan saya, apakah seorang muqallid itu berdosa jika menetapi satu mujtahid saja, padahal ia tahu bahwa Allah tidak mewajibkan demikian?” Al-Albani menjawab: “Tidak berdosa.” Syaikh al-Buthi berkata: “Tetapi isi buku yang Anda ajarkan, berbeda dengan yang Anda katakan. Dalam buku tersebut disebutkan, menetapi satu madzhab saja itu hukumnya haram. Bahkan dalam bagian lain buku tersebut, orang yang menetapi satu madzhab saja itu dihukumi kafir.” Menjawab pertanyaan tersebut, al-Albani kebingungan menjawabnya.

    Demikianlah dialog panjang antara Syaikh al-Buthi dengan al-Albani, yang didokumentasikan dalam kitab beliau al-Lamadzhabiyyah Akhthar Bid’ahTuhaddid al-Syari’at al-Islamiyyah

  27. andi mengatakan:

    AL-ALBANI MENGHUKUM NABI MUHAMMAD SEBAGAI SESAT DARI KEBENARAN
    Malangnya tokoh Wahhabi Al-Albani telah menghukum ke atas Nabi Muhammad sebagai sesat dan sesat dari kebenaran. Walaupun ulama tafsir telah menjelaskan makna ayat 7 dalam surah Ad-Dhoha tersebut bukan bererti begitu.
    Mari kita lihat pada teks kenyataan Nasiruddin Al-Albani Al-Wahhabi yang menghukum nabi Muhammad sebagai sesat:
    ” Saya katakan kepada mereka yang bertawassul dengan wali dan orang soleh bahawa saya tidak segan sama sekali menamakan dan menghukum mereka sebagai SESAT dari kebenaran, tidak ada masaalah untuk menghukum mereka sebagai sesat dari kebenaran dan ini selari dengan penghukuman Allah ke atas nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran sebelum nuzulwahyu Ad-Dhuha ayat 7″. Rujuk kenyataan oleh Al-Albani tadi dalam Fatawa Al-Albani mukasurat 432.

    Lihat bagaimana Al-Albani mempergunakan firman Allah pada bukan tempatnya. Amat jelas Al-Albani menghukum sesat terhadap umat Islam yang bertawassul dan samakan penghukuman sesat dia itu pula dengan penghukuman Allah terhadap nabi Muhammad sebagai sesat dari kebenaran seperti yang didakwa oleh Al-Albani.

    Hakikatnya umat Islam yang bertawassul tidaklah sesat bahkan harus amalan tawassul itu.
    Sekiranya Al-Albani mahu sangat menghukum mereka sebagai sesat mengapa disamakan penghukumannya dengan firman Allah ta’ala?! dan mengapa Al-Albani mendakwa nabi Mumammad juga sesat dari kebenaran dan jelas lagi terang Al-Albani mengatakan “nabi Muhammad sebagai SESAT (DHOLLUN)! dan ditambah lagi oleh Al-Albani bahawa Nabi Muhammad sesat dari kebenaran! na’uzubillah.
    bertobatlah wahai wahabi

    • tj.er mengatakan:

      Apa alasannya Syekh A Albani begitu dibenci padahal dia termasuk ulama yang sejak masih muda menghabiskan waktunya untuk mengaji , belajar ?.

      Kepada yang menghujat Wahabi , apa alasannya ? apakah Wahabi tidak berpegang pada Al Quran , Sunah Rasul SAW ?., apakah hanya ikut ikutan orang lain yang menyebarkan ketidak sengangannya kepada Wahabi karena tidak sepaham dengan organisasinya ?.

      Apakah tidak sebaiknya berpegang kepada Al Quran & Sunah Rasul saja ?. Kita persembahkan amalan terbaik kita untuk diri kita kelak.

      Organisasi apapun tidaklah penting,,,, bisa bisa beribadah kepala Allah SWT tetapoi masih tercampur yang selain Allah , kalau tidak organisasinya tidak mau.

  28. erol mengatakan:

    buat para komentator..
    orang indonesia pinter komentar, belajar males, nghargai orang susah, mau benar sendiri, pinter nyalahkan orang lain.. gak semua tapi kebanyakan.

    syaikh muhaddits terbesar abad 20 nashiruddin al-albani aja berani disalahkan, apalagi yang dibawahnya.
    kayaknya dunia ini sebesar mulutnya.

    mau tanya saya,
    berapa kitab sudah anda baca?
    berapa kitab sudah anda tulis?
    berapa ayat hafalan anda?
    sepandai apa anda dalam ilmu al-jarh wa at-ta’dil?
    siapa nama lengkap sufyan ats-tsauri?
    coba hafalkan 10 hadits saja beserta sanad dan matannya?

    kalau gak bisa gak usah koment.. itu bukti kecil kalo para komentator ulung dari indonesia masih jauh kalah dengan syaikh al-albani..

    terima kasih ustadz atas pencerahannya..
    Lc itu gelar. bedanya yang punya gelar dengan yang nggak itu,
    yang punya gelar kalau bicara dengan ilmu, kalau gak pakai gelar membicarakan ilmu tanpa ilmu.

    diam, jika anda tidak tahu siapa Syaikh AL-Albani.
    syukran

  29. fadhlan syafril mengatakan:

    assalamu’alaikum ww
    buat semua saudaraku….tidak perlu mengeluarkan kata- kata kasar untuk membela seorang ulama terhadap orang yang tidak sefaham, cukup gunakan kata2 yang dianjurkan oleh nabi, orang beriman tidak pernah mengeluarkan kata2 kasar atau kotor untuk menyampaikan sesuatu. memang tidak ada kata- kata yang harus benar2 di katakan benar kecuali perkataan nabi, tp dalam urusan agama, ALLAH telah berfirman dalam surat al ma’idah. agama ini sudah sempurna…. ( coba dilihat dalam kamus bahasa indonesia tentang kata SEMPURNA ) tidak ada tambahan lagi…. jadi kalau masih ada pertentangan tentang agama ini dan tidak merujuk kepada Al qur’an dan sunnah maka nasehatilah dengan kata- kata yang indah dan lembut. wahai saudaraku…. dalam beragama cukupkanlah kita dengan apa yang diajarkan nabi, jangan kita menambah2 karena hanya menganggap itu baik, ini baik, bagus untuk semua orang, dengan hanya mengira2 dan mengikuti perasaan…. takutlah…takutlah… takutlah… dan ingat SYETAN pun datang dari pintu- pintu yang kita anggap sebuah kebaikan.

  30. ORANG AWAM mengatakan:

    Yang merasa bidah yaa tinggalkan.
    Yang merasa ada bidah hasanah yaa silahkan.
    masing2 punya dalil.

    SAYA ORANG PALING AWAM.
    Tapi HATI-HATI, WASPADA…..
    ANDA YANG BERILMU TELAH DIPECAH OLEH ISRAEL
    Dalam Alquran Israel diberikan kelebihan drpd suku lain.
    Israel dan kafir sangat jago dan pintar termasuk Ilmu Alquran dan hadist, mereka jg mempelajarinya. cuma tidak mengamalkannya.

    MEREKA MEMPELAJARI ALQURAN DAN MEREKA TAHU Bahwa MEREKA TIDAK DAPAT MENGALAHKAN ISLAM SECARA FRONTRAL.
    Jadi mereka akan mencoba mengalahkan islam dengan menyusup kedalamnya.

    saran saya :
    Jika anda merasa ragu akan sesuatu, silahkan minta petunjuk dari ALLAH langsung, tanya sama ALLAH. saya yakin anda jauh lebih tau caranya. kalau hanya bertanya kepada manusia sekarang maka pasti selalu berbeda.
    Hanya ALLAH yang berhak menentukan siapa yang masuk surga dan siapa yang masuk neraka, bukan manusia.

    Maaf, saya tidak menyebut ulama, syech, atau ahli ilmu lainnya karena mereka semua adalah manusia. Tak ada manusia yang sama.

    jangan hanya mengikuti ajaran nabi, tp jg IKUTLAH AKHLAK NABI, jangan marah, jangan marah dan jangan marah.

  31. edy s mengatakan:

    ulama adalh pewaris nabi..
    ikutilah mayoritas mereka..
    karena mereka tidak akan bersekutu atas nama yang batil

    belajarlah dari mereka
    dengan sungguh sungguh niscaya
    kita kan dapatkan warisan yg berharga

    Ulama cahaya umat
    kesilapannya dimaafkan tuhan

  32. amirul mu'minin mengatakan:

    Mau rumah di surga? jauhi debat kusir, walaupun anda dalam kebenaran!

    Mau rumah di surga? jauhi debat kusir, walaupun anda dalam kebenaran!
    Ilustrasi

    – Rasulullah -shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda :

    أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِى رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِى وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِى أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

    “Aku menjamin sebuah rumah di pinggir jannah (surga) bagi siapa saja yang meninggalkan perdebatan berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran (al haq), juga sebuah rumah di tengah jannah bagi siapa saja yang meninggalkan berbohong walaupun ia sedang bercanda, serta sebuah rumah di puncak jannah bagi siapa saja yang berakhlak mulia.”

    (HR. Abu Dawud, Dinyatakan Hasan shahih oleh Syaikh Al Albani)

    Umar Bin Khattab berkata :

    لا يجد عبد حقيقة الإيمان حتى يدع المراء وهو محق ويدع الكذب في المزاح وهو يرى أنه لو شاء لغلب

    “Seseorang tidak akan merasakan hakikat iman sampai ia mampu meninggalkan perdebatan yang berkepanjangan meskipun ia dalam kebenaran, dan meninggalkan berbohong meskipun hanya bercanda padahal ia tahu seandainya ia mau ia pasti menang dalam percebatan itu”

    (Kanzul Ummal juz 3 hal 1165)

    Imam Ishaq bin Isa berkata :

    المِراء والجِدال في العلم يَذهبُ بنور العلم من قلب الرجل

    “Imam Malik bin Anas mengatakan : “Debat kusir dan pertengkaran dalam masalah ilmu akan menghapuskan cahaya ilmu dari hati seseorang”

    Imam Ibnu Wahab berkata : “Aku mendengar Imam Malik bin Anas mengatakan :

    المراء في العلم يُقسِّي القلوب ، ويورِّث الضغن

    “Perdebatan dalam ilmu akan mengeraskan hati dan menyebabkan kedengkian”

    (Jaami’ al Uluum wak Hikam 11/16)
    Di antara tanda sebuah diskusi telah berubah menjadi debat kusir

    Nada suara mulai meninggi
    Tulisan mulai menggunakan istilah yang emosional
    Mulai muncul kata-kata ejekan atau sebutan yang merendahkan
    Mengulang-ulang argumentasi
    Mengingkari aksioma
    Menolak logika
    Mulai melibatkan perasaan dan emosi yang berlebihan

    * aksioma = pernyataan yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa harus melalui pembuktian

    Jika sudah seperti ini, sebaiknya segera tinggalkan saja karena bukan manfaat yang akan kita dapat, melainkan justru madhorot. Bukan ukhuwwah yang kita raih, melainkan kebencian dan kedengkian yang kita peroleh.

    لاَ تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلاَ لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلاَ تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

    “Janganlah kalian mencari ilmu untuk menandingi para ulama atau untuk mendebat orang-orang bodoh atau agar bisa menguasai pertemuan dan majlis-majlis. Barangsiapa yang berbuat seperti itu, maka neraka baginya, neraka baginya.”

    (Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Ibnu Majah dan Al Hakim, beliau menyatakan bahwa hadits ini Shahih dengan para periwayat yang terpercaya sesuai dengan syarat-syarat Imam Muslim)
    Berbantah-bantahan, sebab kekalahan perjuangan dan jihad

    يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا لَقِيتُمْ فِئَةً فَاثْبُتُوا وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

    “”Hai orang-orang yang beriman. apabila kamu memerangi pasukan (musuh), Maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya, DAN JANGANLAH KAMU BERBANTAH-BANTAHAN, YANG MENYEBABKAN KAMU MENJADI GENTAR DAN HILANG KEKUATANMU dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Anfal 45 – 46)
    Kunci-kunci kemenangan dalam jihad

    Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menjelaskan ayat 45 – 46 surah Al Anfal dengan penjelasan berikut :

    “Di sini, Alloh memerintahkan lima hal kepada para mujahidin. Tidaklah kelima hal ini terkumpul dalam tubuh sebuah kelompok melainkan kelompok itu pasti menang, walau pun jumlahnya sedikit dan jumlah musuhnya banyak :

    Pertama: Istiqomah dan tsabat

    Kedua: Banyak berdzikir (mengingat) menyebut nama Alloh Subhaanahu Wa Ta’ala

    Ketiga: Mentaati Alloh dan mentaati Rosul-Nya

    Keempat: Persatuan kalimat dan tidak saling berbantah bantahan, karena itu akan menghantarkan kepada kegentaran dan kelemahan. Berbantah-bantahan ini adalah tentara yang bisa menguatkan musuh dari orang yang saling berbantah-bantahan untuk mengalahkan mereka. Karena dengan bersatu, suatu pasukan seperti seikat anak panah yang tidak seorang pun mampu mematahkannya. Jika anak panah itu dipisah-pisah, musuh akan bisa mematahkannya.

    Kelima: Yang merupakan kunci, pilar dan penopang keempat hal di atas, yaitu : Sabar.

    Inilah lima hal yang menjadi dasar terbangunnya kemenangan. Ketika kelima hal ini –atau sebagiannya— hilang, kemenangan pun akan hilang sebanding dengan berkurangnya sebagian darinya. Jika semuanya terkumpul, satu sama lain akan saling menguatkan, sehingga pasukan tersebut akan melahirkan pengaruh yang besar dalam meraih kemenangan. Ketika kelima hal ini terkumpul dalam diri para shahabat, tidak ada satu pun bangsa di dunia yang mampu menandingi mereka. Mereka taklukkan dunia dan seluruh rakyat serta negeri tunduk kepada mereka. Tatkala generasi sepeninggal mereka berpecah belah dan melemah, terjadilah apa yang terjadi, la haula wa la quwwata illa billaahil ‘Aliyyi ‘l ‘Adzim; tiada daya dan kekuatan melainkan (dengan) pertolongan Alloh yang Mahatinggi lagi Maha Agung.

    (Al Furusiyyah : Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah hal 506)
    Dzikir, batu bata untuk membangun rumah di jannah

    أن بيوت الجنة تبنى بالذكر فإذا أمسك الذاكر عن الذكر أمسكت الملائكة عن البناء

    “Sesungguhnya rumah-rumah kita di jannah dibangun dengan dzikir, maka ketika seseorang berhenti berdzikir, malaikat pun berhenti membangun rumah itu.”

    (Al Wabil Ash Shoib – Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah 1/109)

    *********

    اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ وَالْجُبْنِ وَالْبُخْلِ وَالْهَرَمِ وَعَذَابِ الْقَبْرِ

    “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari lemahnya hati dan kemalasan, sifat pengecut, kikir, kepikunan dan dari azab kubur.”

    اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا أَنْتَ وَلِيُّهَا وَمَوْلاَهَا

    “Ya Allah limpahkan pada hatiku ketaqwaan kepada-Mu dan sucikanlah ia sesungguhnya Engkau lah sebaik-baik Yang Mensucikan hati. Engkau lah pelindung hatiku dan Yang Paling dicintainya.”

    اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَ يُسْتَجَابُ لَهَا

    “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari Ilmu yang tidak bermanfaat, hati yang tidak pernah tenang, nafsu yang tidak pernah merasa puas dan dari do’a yang tidak pernah dikabulkan.”

    (HR Bukhari & Muslim)

  33. hahaha mengatakan:

    plok..plok..plok… :D :D :D :D

  34. arya senno mengatakan:

    SALAFI ITU SINGKATAN DARI SALAH FIKIR..MEREKA SUKA MENGDENGUNG2KAN SOAL BID’AH…TAPI MEREKA GAK BER FIKIIR KLO AKTIVITAS MEREKA ITU MEMAKAI PRODUK MODERN…

    • fuad mengatakan:

      maaf, bid’ah itu hanya dalam hal agama. kalau dalam hal ibadah yang mengada ada itulah yang disebut bid’ah.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: