Menerangkan Berbagai Persoalan terhadap Kitab Fadhail Amal

Bismillaahi wal hamdulillaah..

Secara berkala insya-Allah daku akan tuliskan disini berbagai persoalan dari Kitab Fadhail Amal sebagai tatapan pembaca. Wahabi adl diantara yg paling getol menghujat kitab ini. Semua pertanyaan yg pernah ditanyakan orang lain termasuk oleh Wahabi, dijawab sendiri oleh Maulana Muhammad Zakariyya semasa hidupnya. Kami mengundang para Wahabi utk mengikuti semua jawaban yg telah diberikan oleh Maulana, semoga saja mereka tdk asal ngomong lagi. Baik juga, jika Wahabi membaca biografi Maulana Zakariyya, supaya mereka bisa mengaca diri sebelum ngomong sesuatu ttg ‘ulama.

Semuanya diambil dari referensi [Zakariyya, 2001], dan dalam penulisannya tdk mesti terurut spt yg ada di buku, mana yg paling hangat dibahas oleh Wahabi itulah yg akan didahulukan. Tag yg digunakan adl [Q&A Fadhail Amal].

Dari jawaban2 Maulana Zakariyya dlm buku ini, terlihat jelas ketawadlu’an beliau, ‘minta didoakan’, ‘menganggap diri hina’ adl diantara kata2 beliau yg banyak ditemukan di dlm kitab2 tulisan beliau. Berikut ikhtisar dari sampul belakang buku tersebut:

***

Kitab Fadhail Amal karangan Syaikhul Hadith Maulana Muhammad Zakariyya Kandhalawi rah. ini adl suatu penghormatan bagi seluruh kitab2 yg tercantum di dalamnya. Sejak diterbit dan diterjemahkan ke dlm berbagai bahasa, Kitab Fadhail Amal telah berjaya mengubah jutaan hati pembaca dan pendengar (menerusi halqah taklim) di seluruh dunia kpd cinta terhadap agama.

Banyak surat pertanyaan mengenai berbagai perkara dikirim kpd Maulana Zakariyya rah. dari org awam dan ahli agama utk penjelasan. Ada juga surat dan tulisan yg keras dan tajam. Namun beliau menjawab semua kata2 tersebut dg penuturan yg lembut dan bijaksana, diantara, halaman 79:

“…Menurut pengetahuan hamba ini tidak ada hadith lemah (dhaif) dalam Kitab Fadhail Namaz (Fadhail Shalat). Sungguh pun demikian, ada juga sebahagian riwayatnya yg dihukum dhaif. Akan tetapi dari awalnya telah dikatakan bahawa hadith-hadith yg terdapat didalamnya telah disepakati oleh para Muhaddithin boleh digunakan. Dan jika ada perbahasan atas riwayat hadith tersebut maka saya catitkan keterangan hadith itu dengan lengkap.”

Buku ini adl berkenaan surat2 pertanyaan dan jawapan beliau berkaitan dg Kitab Fadhail Amal, yg telah dikumpul dari masa ke semasa.

8 Tanggapan ke “Menerangkan Berbagai Persoalan terhadap Kitab Fadhail Amal”

  1. abu hanzhalah zevian Berkata:

    Assalamu’alaikum…
    Duh segitunya antum memuja kitab Fadhail ‘amal dan penulisnya. Emang kalo seseorang itu menyimpang tidak boleh untuk dikoreksi? Masya Allah apakah antum akan menolak kritikan ‘ilmiyyah dari saudaranya sendiri?
    Coba terangkan dan bantahlah kalo apa yang kami kritik itu menurut antum tidak benar. Ummat perlu pencerahan akhy bukan hanya dengan pembodohan dan taklid buta terhadap seorang tokoh tanpa ia ketahui hakikat penyimpangannya.

  2. abaizzat Berkata:

    @abu hanzalah zevian

    Wa’alaikumussalam,

    Perhatikan para pemirsa sekalian, gimana seorang pengikut Wahabi dalam menggunakan bahasa: “memuja”, “menyimpang”, “dikoreksi”, “kritikan”, “pembodohan”, “taklid buta” .

    Daku tdk pernah memuja Fadhail A’mal, yg daku puja hanya Allah Swt. Jangan ngomong klo gak ngerti apa yg di-omong-kan.

    “Menyimpang” dan “sesat” hanya layak ditempel pd jidat org yg sdh terkeluar dari ‘aqidah Islamiyyah, sdgkan ikhtilaf furu’iyyah adl perbedaan yg lumrah saja dlm dunia Islam. Tetapi dlm terminologi Wahabi, berbeda dlm hal furu’ pun akan distempel dg: “sesat”, “bid’ah”, “menyimpang”, etc.

    “Koreksi” adl kata-kata sombong bin angkuh bin arogan. Utk mengoreksi seseorang, pengoreksi itu haruslah sampai pd derajat keilmuan yg sama dg org yg dikoreksi spy koreksian-nya tepat dan dpt dipertanggungjawabkan. Adl sangat lucu jika org seperti anda mencoba utk mengoreksi ‘ulama spt Maulana Zakariyya. Spt yg dikatakan oleh Syaikh Nuruddin (lihat ceramah no. 2: http://abaizzat.wordpress.com/ceramah/), hanya karena baru membaca Bulughul Maram, puak-puak Wahabi menganggap ‘ulama2 zaman dulu tdk tau mengenai perkara2 tertentu dlm agama.

    >Ummat perlu pencerahan akhy bukan hanya dengan pembodohan dan taklid buta >terhadap seorang tokoh tanpa ia ketahui hakikat penyimpangannya.

    Siapa yg melakukan pembodohan? dan apakah ente TIDAK TAQLID? pasti ente taqlid juga sama ‘ulama’2 Wahabi, ayo ngaku saja, jangan malu2. Sekedar tahu dalil saja tdk berarti org itu tidak taqlid, dia masih taqlid juga. Org yg tahu dalil dan mampu meng-istinbath hukum dari dalil2 itu, barulah tdk taqlid. Kebanyakan muslimin di dunia ini (termasuk daku dan ente dan rekan2 ente) adl muqallid, ngaku saja, gak usah malu2.

  3. abu hanzhalah zevian Berkata:

    @ Abaizzat ( yang aga sensi )
    Loh? emang sayah nulis kritikan/koreksi itu dari hawa nafsu sayah sendiri? Yang menjelaskan kan para ‘ulama Ahlussunnah. Kalo anta berusaha menutup mata dari setiap penyimpangan yang ada apakah itu tidak bisa dinamakan dengan Taklid buta alias Ta’ashub ? Kewajiban menyampaikan yang Haq oleh para ‘ulama sudah terlaksana tinggal HIdayah Allah dan sikap terbuka anta dalam menerima kebenaran saja yang menentukan.

    Taklid sama ‘ittiba itu beda ya akhy….
    Kalo yang Taklid ato Ta’ashub itu kan kalo sudah tau dengan jelas bahwa si fulan salah atao si ‘alan menyimpang tapi dia masih saja dengan semangat 45 nya membela dan tidak mau menerima ketika idolanya itu diterangkan oleh para ‘ulama kesalahannya.
    Coba perhatikan terminologi Taklidnya dulu…
    Taklid dalam artian mengikuti tanpa dali/hujjahl maka jelas itu terlarang. Tapi ketika seorang mengikuti kebenaran yang mana Alhaq itu datangnya dari Allah dan Rasulnya yang disampaikan oleh para ‘ulama Ahlussunnah maka apakah antum akan mengatakan itu juga terlarang karena itu sama saja dengan taklid?
    Allah yahdik..beda itu akhy….
    Sok lah..via email saja diskusinya. Jangan disini…
    ( Jangan memperlihatkan bahwa ” Nih Pemirsa bahwa saya nih yang paling benar ( walopun yang dia sampaikan itu g jelas dari mana hujjahnya ) “

  4. abaizzat Berkata:

    @ abu hanzhalah zevian

    >Yang menjelaskan kan para ‘ulama Ahlussunnah.

    Bukan ‘ulama ahlus-sunnah, tp ‘ulama Wahabi. Semua ‘ulama dulu, Imam Mazhab Empat dan mereka yg mengikuti Quran dan Sunnah, adl ahlusunnah. Tp dlm terminologi pengikut Wahabi, ‘ulama ahlussunnah adl ‘ulama mereka sendiri.

    >Tapi ketika seorang mengikuti kebenaran yang mana Alhaq itu datangnya dari Allah >dan Rasulnya yang disampaikan oleh para ‘ulama Ahlussunnah maka apakah antum >akan mengatakan itu juga terlarang karena itu sama saja dengan taklid?

    Siapakah yg mengatakan terlarang? jgn asal ngomong.

  5. abu hanzhalah zevian Berkata:

    Allahummahdini wa iyyaka. mungkin cukup sudah diskusinya..anta udah bersikap apatis duluan terhadap Manhaj salaf, Salafy, dan salafiyun hingga tiap masukan dan koreksian selalu antum bantah dengan kebencian.
    Nas ‘alullahu assalamah wal ‘afiyah..Barokallahu fiik.

  6. Abu Sikil Al Ngatsar Berkata:

    salafy….
    baru bisa baca majalah aja udeh pandai bicara…

  7. Mukhtar Hasan Berkata:

    assalamualaikum…………

    akhi siapa yg bilang dia itu ulama yg sebenar-benar ulama yg di katakan oleh nabi bahwa ” sesunggunya ulama adalah pewaris para nabi?”

    antum kan Jamaah Tablig yg suka Khuruj, ini perkara bid’ah yg di bawah oleh jamaah tablig ini.

    biasanya ahlul bid’ah itu tidak mau menampakkan mukanya. dia bertopeng ala orang sunniya.

    kritikan silahkan ke blog ana.
    ana tunggu

  8. okem Berkata:

    orang tukang pempek maka dia itu tukang pembuat pempek maka pas dagang pun teriaknya pempekk..pempekk.. orang tukang bid’ah maka dia itu tukang pembuat bid’ah maka pas ngajipun teriaknya bid’ah bid’ahhh sampe2 kalo bukan golongan dia dibilang bid’ah……

Tinggalkan Balasan